Mendidik Anak Untuk Rela Berkurban

0 komentar


Ummu Hafizh
Ketua Departemen Wanita Hizb Dakwah Islam

Idhul Adha adalah hari raya qurban dan haji. Di hari raya ini, Alloh mengajarkan umatnya untuk rela mengorbankan hartanya, tenaganya, pikirannya, waktunya bahkan nyawanya hanya untuk menjalankan perintah-Nya, sebagai bukti ketaatan kepada-Nya. Ketaatan (taqwa) kepada Alloh SWT yang merupakan hasil tempaan selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, akan diuji pada bulan-bulan berikutnya.  

Kaum muslimin harus melatih diri supaya setiap saat siap berkorban untuk kepentingan agama, masyarakat dan umat manusia.Setiap perjuangan menegakkan cita-cita mulia dan kebenaran pasti akan menghadapi tantangan demi tantangan, yang membutuhkan pengorbanan. Rasulullah mengancam keras kepada umatnya yang memiliki kelapangan rezeki tetapi tidak mau berkurban, dengan sabdanya: “Siapa yang punya harta tetapi tidak mau berkorban, maka jangan mendekati tempat sholat kami (tempat sholat Idhul Adha yang ditetapkan oleh nabi pada waktu itu)” (HR Daroquthny).

Sikap rela berkorban hanya untuk ketaatan kepada Alloh SWT merupakan hasil akhir dari proses panjang pendidikan.  Oleh karena itu, orangtua harus berusaha mendidik anak untuk mau berkurban sejak dini.    

Ibrah dari Ibrahim AS Kurbankan Ismail AS

Peristiwa kurban merupakan puncak ujian keimanan dari Alloh SWT untuk kekasihNya, Ibrahim AS. Apakah cintanya kepada Alloh kalah dengan cintanya kepada anak tercinta atau isteri tercinta?  

Kelahiran anak pertamanya dalam penantian yang sangat panjang, ternyata disambut dengan perintah Allah untuk memindahkan isteri dan anaknya ke Mekkah. Lembah gersang yang tidak berumput, tidak ada manusia, tanaman maupun hewan.  Ibrahim menjalankan perintah itu dengan sabar, ikhlas dan sepenuh hati. Beliau tinggalkan keduanya di sana dengan penuh keyakinan dan berserah diri kepada Alloh SWT. Alloh SWT memberikan jalan keluar dan kemudahan kepada keduanya, serta memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. 
Setelah Ismail AS tumbuh menjadi remaja dan bisa bekerja sama dengan ayahnya, ternyata datang lagi perintah Allah berikutnya untuk menyembelih putera kesayangannya. Ibrahim AS telah memberi teladan terbaik dalam hal ketaatan dan kesabaran, sebagai pelajaran berharga buat anaknya. Ibrahim AS menjelaskan hal itu kepada puteranya agar hatinya mau menerima dengan penuh keridhoan sehingga tidak perlu pemaksaan. Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi  bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu”.  (QS As Shaaffaat: 102).

Ismail menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAlloh, engkau akan mendapatkan diriku termasuk orang-orang yang sabar” (QS Ash Shaaffaat: 102). Jawaban luar biasa yang menunjukkan ketaatan dan ketegaran iman seorang anak kepada orangtuanya dan kepada Alloh SWT. 

Kenapa Anak Harus Diajarkan Berkurban

Generasi muslim tidak pernah lepas dari berjihad, berkorban, sabar dan tabah. Generasi Islam dituntut untuk menyelamatkan manusia dari kegelapan materialisme yang telah melampaui batas, gelombang liberalisme yang ganas, serta badai perang yang menghancurkan. 

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.  Maka dirikanlah sholat karena TuhanMu, dan berkurbanlah” (QS Al Kautsar: 1-3).  Jadi, setelah sholat, Alloh memerintahkan kepada kita untuk berkurban sebagai bukti nyata ketundukan kita kepada-Nya.
Kurban mendidik umat Islam untuk meninggalkan bermacam-macam tabiat dan kebiasaan buruk, serta menanamkan kasih sayang kepada fakir miskin, menyayangi sesama mahluk hidup yang selamanya ada dalam kekurangan, mendekatkan persaudaraan dan kekeluargaan.

Manusia yang meninggalkan ketaatan, pengabdian dan pengorbanan kepada Alloh SWT, dirinya akan dikendalikan oleh nafsu setan (hasud/iri, curang/menipu), nafsu hewaniah (tamak, nafsu syahwat yang tidak terkendali, mencuri, tidak memperhatikan halal dan haram yang penting perut kenyang), dan nafsu amarah (mencaci maki, mencelakakan orang lain, membunuh).

Tips Mengajarkan Anak Mau Berkorban    

Kita harus mengasah kecerdasan emosi atau empati sosial anak, dan melatih kepekaan mereka. Anak yang dilahirkan dalam keluarga miskin, memang lebih mudah berempati pada penderitaan orang lain. Anak dari keluarga mampu, agak lebih berat kalau tidak sering diperlihatkan keadaan kekurangan keluarga yang kurang mampu.

Ajak anak-anak jalan-jalan ke pasar, sawah, dan pinggiran kota. Tunjukkan perjuangan anak-anak yang harus bekerja menjadi penjaja koran, penyemir sepatu, pengumpul barang bekas, pengamen dan peminta-minta. Ajak anak untuk merasakan keinginan anak-anak yang kurang beruntung, yang tidak akan jauh berbeda dari keinginan anak kita. 

Latih anak untuk bisa memposisikan dirinya sebagai anak lain yang sedang menderita, agar dia bisa merasakan kesedihan dan kesusahan anak tersebut.

Ajak anak untuk mempraktekkan berkorban dari hal yang paling ringan. Mengisi kotak amal di masjid, memberikan uang kepada pengamen atau pengemis. Memberi hadiah pada teman atau saudara. Mengantarkan makanan kepada  tetangga.

Ajarkan pola hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan, kepada anak. Sehingga anak akan selalu bersyukur dengan apa yang dimilikinya, serta bisa menyisihkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada yang membutuhkan.

Ceritakan kisah teladan Rasulullah Saw, sahabat, dan orang-orang saleh dalam berkorban dan peduli.  Rasulullaah saw bersifat rendah hati, pemaaf, sopan santun, adil, pemurah, bijaksana, penyabar, penolong, dan sifat-sifat baik lainnya.  

Orangtua harus memberi keteladanan. Ajak anak ketika orangtua membantu tetangga atau saudara yang sedang kesusahan. Jelaskan kepada anak bahwa kita harus membantunya dengan ikhlas dan tidak boleh diiringi dengan sikap dan kata-kata yang menyakitkan. Ungkapkan rasa simpati dan empati kita karena peduli dan ikut merasakan kesedihan teman atau kerabat yang sedang kesusahan kepada anak.  

Perdalam keyakinan tentang qodho dan qodar dalam jiwa anak, agar teguh imannya dan benar-benar yakin bahwa apa yang ditakdirkan menimpanya tidak akan luput darinya, dan apa yang ditakdirkan tidak menimpanya pasti tidak akan menimpanya.

Anak diajak memperbanyak membaca dan mempelajari surah Al Anfal, At Taubah dan Al Ahzab yang merupakan ayat-ayat jihad.  Sehingga tumbuh dalam diri anak sifat pemberani, tidak takut celaan orang lain demi mempertahankan agama Alloh, bersemangat untuk berjihad, dan bercita-cita gugur syahid di jalan Alloh.

Anak harus diajarkan kesabaran dan ketabahan kepada anak, agar mereka siap memperjuangkan kemuliaan Islam dan kaum muslimin. “Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang mukmin, jiwa dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka” (QS At Taubah: 111).  

Ajak anak mengikuti kegiatan atau terlibat dalam kepanityaan perjuangan umat Islam dalam merespon masalah yang dihadapi Islam. Sehingga anak ikut merencanakan, mempertanggungjawabkan, menguras tenaga/waktu/pikiran agar acara tersebut berjalan dengan sukses.

Waspadai Faktor Eksternal Negatif 

TV ternyata menjadi guru efektif menumbuhkan sikap anti-sosial. Banyak acara yang menyelipkan tanpa rasa berdosa (just fun) mentertawakan orang gendut atau cacat, meledek penderitaan orang, obral umpatan, kekerasan mencelakakan orang lain, dan  sebagainya. Mulai dari pelawak, gaya interaktif para pembawa acara infotainment, sampai film kartun anak.  Hal ini tidak sebanding dengan penayangan perilaku kehangatan, kesopanan, empati dan nasehat.
Virus sepilis dari sistem kapitalis yang menyebarkan gaya hidup sekuler, plural dan liberal, telah memberikan kebebasan individu atas nama HAM (Hak Asasi Manusia). Akibatnya, anak cenderung bersikap individualis, tidak peduli dengan orang lain.  

Kontrol teman dan lingkungan pergaulan anak masa kini yang didominasi oleh 3F (Fun, Food, Fashion), sehingga anak-anak lebih gemar berfoya-foya dan bermewah-mewah, tanpa peduli keadaan sekitar.

Kontrol bacaan yang merusak ke-Islaman anak, karena media massa dan buku-buku bacaan didominasi oleh pemikiran liberal.

Semoga kita diberi kemudahan untuk mendidik anak-anak kita menjadi Ismail-Ismail yang rela mengorbankan nyawa demi ketaatan kepada Alloh SWT. Amiin...
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Copyright © 2011. Khazanah Islami - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger