Bertaubatlah karena ALLAH Maha Pengampun.

0 komentar




Bismillahirrohman nirrohiim...

Saya mengajak pembaca merenungi sabda Rasul SAW, melihat-lihat keindahan dan kemudahan Islam, sehingga kita tidak akan lagi mendengar kekerasan, kegarangan, kesusahan, maupun kepelikan yang sering disematkan kepada ajaran Islam.

Rasul SAW bersabda, "Wahai para manusia, minta ampunlah pada Tuhan kalian dan bertaubatlah, maka aku meminta ampun dan bertaubat pada Allah seratus kali setiap hari. " (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasul SAW meminta ampun dan bertaubat setiap hari seratus kali. Sedang kita selama sepuluh tahun tidak pernah bertaubat, sama sekali Rasul yang ma'shum, terjaga dari maksiat, bertaubat seratus kali setiap hari? Bertaubat dari apa? Derajat Rasul telah tinggi di hadapan Allah, dan ia ingin mengangkat derajatnya dengan cinta dan ma'rifat Allah. Apakah kita ingat, kapan terakhir kali kita bertaubat? Sudahkah kita mengulangi taubat itu lagi atau belum?

Para sahabat berkata, "Kami menghitung dalam setiap satu pertemuan Rasulullah SAW mengucapkan lebih dari seratus kali,

“Ya Rabbi, ampunilah aku, dan terimalah taubatku. Sesungguhnya, Engkau, adalah Maha Penerima taubat, lagi Maha Penyayang'." (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad).

Bayangkan, Rasul diam di tengah para sahabat, lalu meminta ampun. Mengulangi dan akhirnya menyudahi dalam hitungan lebih dari seratus kali. Maka, bertaubat dan mintalah ampun kalian pada Allah SWT. Tidakkah kita melihat Rasul yang lebih dari tujuh puluh kali beristighfar dalam satu pertemuan. Lalu, bagaimana dengan kita?

Nabi SAW bersabda, “Sungguh, Allah membentangkan tangan-Nya setiap malam agar orang yang berbuat kejelekan di siang hari mau bertaubat. Dan Dia juga membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat kejelekan di malam hari mau bertaubat." (HR. Muslim dan Imam Ahmad).

Dalam perkara rezeki, Allah tidak membentangkan kedua tangan¬-Nya seperti ini. Satu-satunya perkara yang Allah SWT membentangkan kedua tangan-Nya untuk menerimanya adalah taubat. Dengan ini, apakah kita tetap enggan bertaubat? Tidakkah kita merasa malu? Sepuluh tahun, mau bertaubat Padahal Allah membentangkan tangan-Nya untuk menerima taubat setiap malam dan siang hari.

Nabi SAW bersabda, "Rabb kita turun setiap sepertiga malam terakhir, lalu berfirman, ‘Siapa yang berdoa pada-Ku, untuk Aku kabulkan permohonannya?; siapa yang meminta pada-Ku, untuk Aku penuhi permintaannya?; dan siapa yang mohon ampun pada-Ku, untuk Aku ampuni dosanya?. " (HR. Bukhari dan Muslim)

Selama 30 atau 40 tahun kita mendengkur setiap malam. Bahkan, ada vang selama hidup tidak mau bangun dan berkata, "Aku bertaubat dari dosaku selama dua puluh tahun yang lalu." Di saat Allah sedang turun ke bumi, dan berkata, ‘Adakah orang yang bertaubat? Siapakah yang bertaubat, untuk Aku ampuni?."

Saudaraku, apakah kita tahu, siapa Rabb kita? Apakah kita rnerasakan kebesaran, kasih sayang dan ma' rifat Allah dengan hamba¬-Nya?

Dalam sebuah hadits Qudsy dikatakan, "Wahai Bani Adam, kalian tidaklah (sungguh-sungguh) berdoa dan mengharap pada-Ku, Aku akan mengampuni dosa-dosa kalian dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, jikalau dosa kalian mencapai awan di langit, lalu kalian minta ampun pada-Ku, Aku akan mengampuni kalian, dan Aku tidak peduli. Wahai Bani Adam, jikalau kalian datang pada-Ku dengan dosa sebesar ukuran bumi, tetapi kemudian kalian mendatangiku dengan tanpa berbuat syirik pada-Ku, maka Aku akan datang padamu dengan ampunan sebesar itu pula." (HR. At-¬Tirmidzi).

Mengapa kita tetap enggan bertaubat dengan semua ini? Lalu kapan kita akan bertaubat? Apa yang ingin kita dengar untuk bertaubat? Apakah kita ingin ditimpa adzab yang pedih untuk bertaubat? Apakah kita tidak mau bertaubat dengan keadaan sehat lagi selamat?

Ketika Iblis menentang Allah, tidak bersujud pada Adam AS ia berkata, "Ya Rabbku, demi kemuliaan-Mu dan keagungan-Mu, aku akan sesatkan mereka selama nyawa mereka masih di badan." Allah menjawab, "Demi kemuliaan-Ku dan keagungan-Ku, Aku akan ampuni mereka selama mereka minta ampun pada-Ku." (HR. Imam Ahmad)

Apalagi yang kita inginkan? Apa yang kita ingin dengarkan? Ataukah kita ingin mendengar cinta dan kasih sayang Allah?

Rasul bersabda, “Allah lebih gembira menerima taubat hamba-Nya dari pada hamba yang berjalan di padang pasir, lalu ia kehilangan kendaraannya yang memuat makanan dan minumannya. Ia menyangka akan mati, lalu ia menggali lubang, dan tidur di dalamnya sambil berkata, Aku akan tidur di lubang ini sampai kematian datang menjemput.' Tiba-tiba kendaraan dan makanan yang ia bawa berada di atasnya. ---Adakah kebahagian yang lebih besar dari peristiwa itu? Kebahagian orang yang akan mati, lalu selamat?--- sampai-sampai ia berkata, 'Ya Allah Kau hambaku, dan aku tuhan-Mu.' (la sampai salah bicara karena bahagia.) Maka Allah lebih gembira menerima taubat hamba-Nya dari pada kegembiraan hamba tadi." (HR. Bukhari dan Muslim)

Laa ilaha illallaah, kita begitu lalai pada Allah. Tidakkah kita melihat besarnya karunia-Nya? Dan kita tetap enggan bertaubat setelah mendengar semua itu? Begitu keraskah hati kita?

Di zaman Bani Israil, ada seorang yang melakukan dosa selama hidupnya. Ketika hampir mati, ia mengumpulkan anak-anaknya seraya berkata, "Wahai anakku, tiada seorang pun di dunia ini yang melakukan dosa sepertiku. jika aku mati, bakarlah bangkaiku, nyalakan api, lalu lemparkan aku ke dalamnya. Bila sudah jadi abu, hancurkanlah, dan tebarkan di puncak-¬puncak gunung. Maka sekiranya Tuhanku kuasa atasku, Ia akan menyiksaku dengan siksa yang tak seorangpun disiksa dengannya."

Ketika mati, ia pun dibakar, dan abunya dihancurkan. Lalu, mereka menunggu hari bertiupnya badai. Setelah badai tiba, mereka sebarkan abu itu di atas gunung. Setelah itu, Allah berfirman, "Jadilah," maka jadilah. Lalu Allah berfirman, "Apa yang menyebabkan kamu melakukan ini?" la menjawab, "Aku takut pada-Mu dan dosaku." Allah berfirman, "Dengan takutmu pada-Ku, Aku telah mengampunimu. Aku bersaksi denganmu, wahai mlalaikat, bahwa Aku telah mengampuninya dan memasukkannya ke surga." (HR. Bukhari dan Muslim).

Ada pula atsar yang mengisahkan seseorang dengan ketaatannya selama dua puluh tahun. Setelah itu ia pun berbuat maksiat selama dua puluh tahun juga. Lalu ia berkata, "Ya Tuhanku, aku taat padamu selama dua puluh tahun, lalu bermaksiat selama dua puluh tahun... Akankah aku Kau terima jika aku bertaubat?" Ia bergumam sendiri, "Tidak mungkin setelah semua yang aku perbuat." Suatu hari ia tertidur. la pun mendengar suara, "Kau telah berbuat taat pada Kami, sehingga Kami pun mendekatimu. Lalu, Kau pun bermaksiat hingga Kami pun melupakanmu. Maka jika kau kembali pada Kami, Kami pun akan menerimamu."

Saudariku, kau telah membuka jilbabmu, dan kau merasa telah terlanjur berdosa. Kau telah jauh dari Allah. Tidak, pintu taubat masih terbuka! Kembalilah kau pada Tuhanmu!

Di zaman Nabi Musa AS terjadi masa paceklik. Manusia dan hewan kehausan, dan hampir mati, karena sedikitnya persediaan air. Mereka lelah, hingga berkata, "Wahai Musa, serulah Allah, dan mintalah agar hujan diturunkan!" Nabi Musa pun mengumpulkan mereka di satu tanah lapang, lalu ia berdoa pada Allah. Mereka pun mengamini doa beliau, tetapi hujan tak kunjung turun. Akhirnya, ia pun berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Kau tidak mau menurunkan hujan, padahal kami telah berdoa dan menghinakan diri pada-Mu?"

Allah menjawab, "Wahai Musa, di antara kalian ada seorang yang berbuat maksiat selama empat puluh tahun, ia belum bertaubat. Maka ia menghalangi terkabulnya doa kalian." Lalu ia bertanya, "Lalu apa yang harus kami lakukan?" Allah menjawab, "Keluarkanlah orang yang berbuat maksiat itu! Jika orang itu keluar dari barisan kalian, hujan akan turun." Nabi Musa pun berkata, "Aku minta kalian bersumpah pada Allah. Aku bersumpah pada Allah, di antara kita ada yang berbuat maksiat selama empat puluh tahun, hingga hujan tidak turun-turun, maka hendaklah ia mau keluar dari barisan."

Orang yang berbuat maksiat itu menoleh ke kanan dan kiri sekiranya ada yang keluar selain dia. Tetapi tidak ada seorang pun yang keluar. Tahulah ia kalau yang dimaksud adalah dirinya. Lalu ia berkata, "Ya Tuhanku, aku telah berbuat maksiat selama empat puluh tahun, dan Kau telah menutupinya. Ya Tuhanku, jika aku keluar, maka namaku akan tercemar. Dan jika aku tetap tinggal, maka hujan tidak akan turun. Ya Tuhanku, aku sekarang bertaubat padamu, aku menyesal, aku kembali pada-Mu, maka ampunilah aku, dan tutupilah kejelekanku!"

Hujan pun turun, akan tetapi orang yang berbuat maksiat itu tidak keluar dari barisan. Akhirnya, Nabi Musa bertanya, "Ya Tuhanku, hujan telah turun, dan orang itu belum keluar?" Allah menjawab, "Wahai Musa, hujan telah turun dengan taubat hamba-Ku yang telah bermaksiat selama empat puluh tahun."

Nabi Musa bertanya lagi, "Ya Tuhanku, tunjukkan orang itu padaku agar aku bergembira dengannya." Allah menjawab, "Wahai Musa, ia telah berbuat maksiat pada-Ku selama empat puluh tahun, dan Aku telah menutupinya. Lalu apakah Aku akan membukanya padamu, mencemarkan namanya, padahal ia telah kembali pada-Ku?".

Moga Bermanfaat ..Amin
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Copyright © 2011. Khazanah Islami - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger