Kisah Laila al Halwa & Penyakit Kankernya Yang Sembuh Dengan Air Zamzam [Bag.Kedua]

0 komentar




Menangis dan Meratap di Depan Ka’bah
Tutur Laila Al-Halwa, “Kami pun tiba di Masjidil Haram. Ketika masuk dan melihat Ka’bah, aku menangis tersedu-sedu karena mengingat banyaknya dosa yang telah kulakukan. Aku teringat begitu banyak kewajiban yang telah kutinggalkan sehingga aku mengatakan, ‘Ya Rabbi, aku telah berusaha semaksimal mungkin dengan berobat kepada dokter, sekarang tidak ada yang bisa kumohon selain kepada-Mu. Karena itu janganlah Engkau tutup pintu tobat untukku’.
Aku melakukan thawaf dan memohon kepada Allah agar tidak menyia-nyiakanku. Aku memohon agar diberi kesembuhan supaya para dokter heran dan kaget dengan hal tersebut.
Sebagaimana yang telah kujelaskan sebelumnya, bahwa aku lalai kepada Allah dan tidak mengerti agamaNya. Maka aku pun mengunjungi banyak Syeikh dan Ulama yang berada di sana untuk minta doa-doa ringan yang bisa kuhapal. Mereka menyarankan agar aku banyak membaca Al-Qur’an dan meminum air zamzam. Mereka juga menasihatiku agar banyak berdzikir dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Aku merasa tenang dan tentram berada di tanah haram. Aku pun meminta ijin kepada suamiku agar diperbolehkan tinggal di Masjidil Haram dan tidak pulang ke hotel. Setelah diberi ijin aku selalu berada di Masjidil Haram untuk berdzikir dan beribadah.
Di Masjid aku ditemani banyak wanita yang melihatku sering menangis. Mereka pun menanyakan kepadaku tentang sebab tangisku, dan aku menjawab, “Karena aku telah berada di Masjidil Haram dan aku tidak menyangka sama sekali akan begitu mencintainya. Kedua karena aku terkena penyakit Kanker dan menginginkan kesembuhan.”
Mereka tetap menemaniku dan tidak meninggalkanku. Aku katakan kepada mereka bahwa aku sedang ber’tikaf di Masjidil Haram, maka mereka pun meminta ijin kepada suami mereka agar diperbolehkan untuk beri’tikaf bersamaku. Di Masjid aku tidak tidur dan tidak makan kecuah sedikit, akan tetapi aku banyak meminum air zamzam, mengingat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Air zamzam adalah tergantungg untuk apa ia diminum [sesuai dengan niat orang meminumiya]“.[1]

Jika ia diminum untuk penyembuhan, maka Allah akan menyembuhkan penyakit tersebut. Jika diminum karena haus, maka Allah akan menghilangkan dahaga tersebut. Dan jika diminum dalam rangka memohon pertolongan kepada Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan-Nya.
Berkat meminum air zamzam aku tidak merasa haus. Aku terus melakukan thawaf tanpa henti dan menunaikan shalat sunnah dua rakaat. Begitulah yang kulakukan sehari-harinya; thawaf, shalat, membaca Al-Qur’an dan meminum air zamzam. Aku juga jarang tidur kecuali sebentar saja.
Kondisiku semakin lemah dan kurus dan bagian atas tubuhku membengkak dan banyak muncul benjolan-benjolan (tumor). Hal ini semakin memperkuat bahwa penyakitku telah menyebar di bagian atas tubuhku. Teman-temanku menyarankan agar bagian yang membengkak tersebut dibasuh dengan air zamzam, akan tetapi aku tidak mau memegang bengkak dan benjolan tersebut karena takut akan memalingkanku dari dzikir dan ibadah kepada Allah. Akhirnya aku hanya membasuhnya tanpa menyentuh bagian tubuh yang bengkak tersebut.

Pada hari kelima teman-temanku mendorongku agar aku membasuh tubuhku dengan air zamzam. Mulanya aku menolaknya, akan tetapi seakan-akan ada kekuatan yang mendorongku untuk melakukan hal tersebut. Memang awalnya aku merasa takut, tetapi kemudian muncul dorongan tersebut dan untuk yang kedua ini aku merasa ragu. Hingga untuk ketiga kalinya seakan-akan ada kekuatan yang mendorongku untuk mengambil air zamzam dan membasuhkannya ke tubuhku dan payudaraku yang penuh dengan darah dan nanah serta benjolan. Tiba-tiba terjadi hal menakjubkan yang sama sekali tidak terbayang dalam pikiranku, yaitu seluruh bengkak dan benjolan tersebut hilang dari tubuhku tanpa tersisa sedikit pun. Aku pun tidak lagi merasa sakit, tidak ada lagidarah dan nanah di tubuhku.

Mulanya aku sangat kaget. Aku pun memasukkan tanganku ke dalam bajuku untuk memastikan apakah masih ada benjolan dan bengkak di tubuhku, akan tetapi aku tidak menemukan apa-apa. Aku agak takut ketika itu, akan tetapi kemudian aku teringat bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Kemudian aku meminta kepada salah seorang temanku agar memegang tubuhku dan mencari benjolan dan bengkak tersebut, ternyata benar bahwa semuanya telah hilang dari tubuhku. Mereka pun menjerit histeris seraya berucap “Allahu Akbar, Allahu Akbar”.
Selanjutnya aku segera pergi menemui suamiku untuk mengabarkan kesembuhanku. Begitu masuk hotel dan berada di hadapannya, aku langsung menyobek bajuku seraya berkata, “lihatlah rahmat Allah”.

Kuceritakan semua yang terjadi kepadanya, tetapi ia tidak mempercayainya. la menangis dan menjerit seraya berkata, “Tahukah kamu bahwa dokter mengatakan bahwa kematianmu tinggal tiga minggu lagi?”
Kukatakan kepadanya, “Ajal dan kematian hanyalah di tangan Allah, dan tidak ada yang mengetahui hal ghaib selain Allah.”

Kehendak Allah dan Keheranan Para Dokter
Tutur Laila Al-Halwa selanjutnya, “Kami tinggal di Masjidil Haram selama seminggu. Kami memuji Allah dan bersyukur atas nikmatNya yang tiada terhingga. Kemudian kami mengunjungi Masjid Nabawi di Madinah al-Munawwarah, lalu kembali ke Perancis. Para dokter di sana terheran-heran dengan keadaanku dan sangat bingung. Mereka menanyakan kepadaku, “apakah Anda wanita yang pernah berobat kepada kami?”

Dengan mantap dan percaya diri kujawab, “Ya, akulah orangnyaa dan inilah suamiku. Aku telah kembali kepada Tuhanku, dan aku tidak takut apapun kecuali kepada-Nya. Semua yang terjadi adalah takdir dan kehendak-Nya.”
Para dokter mengatakan, “Kondisi Anda sangat aneh dan mengherankan, semua bengkak dan benjolan telah hilang, karena itu perlu diadakan pemeriksaan ulang.”

Ketika mereka memeriksa dan meneliti tubuhku, mereka tidak menemukan apa-apa dan penyakitku benar-benar telah sembuh total. Sebelumnya aku tidak bisa bernafas karena benjolan dan bengkak tersebut, akan tetapi ketika tiba di Masjidil Haram dan memohon kesembuhan kepada Allah, semuanya hilang dan tubuhku.
Setelah itu aku mulai membaca buku-buku sejarah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para Sahabatnya. Aku banyak menangis setelah itu karena mengingat dosa-dosa yang telah kulakukan di masa lalu. Aku memohon kepada Allah agar menerima tobatku dan keluargaku serta segenap kaum muslimin.


 
Foot Note:
[1] Hadits Hasan. Diriwayatkan oleh Ahmad [3/357,372], Ibnu Majah [3062], Hakim [1/437], Daruquthni [2/289], Baihaqi dalam As-Sunan AI-Kubra [5/148], al-Khatib dalam Tarikh Baghdad [3/179], Ibnu Adiy dalam al-Kamil [4/1455].
Sumber: “100 Kisah Penyembuhan Dengan Air Zamzam, Madu, Jinten Hitam Dll.”, Majdi Fathi as-Sayyid, Penerbit Darussunnah
 
Facebook Fans Page: Kisah Teladan & Sejarah Islam
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Copyright © 2011. Khazanah Islami - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger