Kisah Cinta Qais Dan Laila

0 komentar

 
 
Alkisah, hiduplah seorang pria yang bernama Qais. Dia pria yang tampan, cerdas, dan ahli dalam banyak hal. Dia lahir dalam keluarga terpandang. Sayangnya, semenjak bertemu Laila dan terperosok dalam lubang cinta yang gelap gulita, pria itu pun berubah 180 derajat. Hari-harinya dihabiskan dengan melamun dan menyusun sajak cinta bagi Laila. Semakin hari, tubuhnya semakin kurus karena enggan mengisi perut. Orang tuanya telah putus asa. Qais yang dimabuk cinta menjadi seorang yang hilang akal dan dijuluki sebgai Majnun. Tanpa disangaka, sebenarnya Laila juga memiliki perasaan yang sama terhadap Qais. Namun, sebagai seorang wanita dengan harga diri tinggi, Laila tetap merahasiakan perasaan cintanya. Sedalam apapun perasaan cinta Laila terhadap Qais, ia tidak dapat memaksa ayahnya untuk menyetujui hubungannya dengan Qais karena Qais telah berubah menjadi seorang yang sangat tidak patut diharapkan untuk menjadi pendamping hidup Laila. Cinta mereka tidak pernah dapat terwujud. Kisah ini diakhiri dengan Majnun, yang mulai kembali menjadi Qais, mengunjungi makam Laila. Dia menderita karena kematian pujaan hatinya dan meninggal di atas makam itu.
 
Kisah ‘Laila Majnun’ sangat tersohor di seluruh penjuru dunia. Konon, kisah ini yang menjadi inspirasi bagi William Shakespeare untuk menulis kisah ‘Romeo dan Juliet’. Awal mulanya merupakan kumpulan sajak rakyat yang dirangkum oleh seorang penyair bernama Nizami. Pertama kali kubaca ketika duduk di bangku SMA. Adikku tersayang memberikan buku ‘Laila Majnun’ sebagai hadiah ulang tahunku. Dipenuhi rasa penasaran yang meluap-luap, segera saja kubaca buku itu. Waaah, ternyata isinya penuh dengan sajak cinta! Kata-katanya sungguh menawan hati. Namun, setelah kutamatkan, kuputuskan untuk menyumbangkan buku tersebut ke perpustakaan SMA ku. Entah apa alasanku saat itu. Mungkin kupikir, sajak-sajak cinta yang mendayu-dayu tersebut terlalu berlebihan untuk dibaca berulang kali.
Lebih dari lima tahun telah berlalu sejak pertama kali kubaca kisah legendaris tersebut. Masih hangat dalam ingatan perasaan Qais yang akhirnya berubah menjadi Majnun. Dimulai dari cinta pada pandangan pertama, indahnya jatuh cinta, angan-angan tanpa batas, hasrat yang bergejolak, obsesi pada objek cinta, pahitnya patah hati, perasaan putus asa, hingga hidup segan mati tak mau. Semua fase cinta ada dalam kisah ini. Sementara itu, tokoh Laila sebagai objek cinta adalah seorang yang misterius. Tidak ada satu orang pun yang tahu perasaan yang dipendam olehnya. Seakan membenarkan perkataan, “Hati wanita adalah samudera rahasia yang dalam.”.
Aku sebagai salah satu pembaca dan penggemar kisah ini ingin membagi interpretasi pribadiku. Hmm. Baru beberapa bulan belakangan, aku merasa menjadi seorang Majnun. Sungguh saat ini, aku masih merasa malu dan merugi atas apa yang kulakukan. Aku tidak bermaksud berbagai keluh kesah disini. Aku ingin apa yang kualami menjadi pembelajaran bagi siapa pun yang membaca ulasan ini. Jadi, setelah mengalami sendiri apa yang dialami Majnun, aku pun dapat menarik sebuah kesimpulan yang menurutku adalah sebuah titik balik dalam hidupku.
Pertanyaan pertama yang selalu ada dalam benakku, “Bagaimana bila Qais tidak menjadi Majnun?” yang disusul dengan pertanyaan turunannya, “Apakah akhirnya Qais dapat menikahi Laila bila Qais tidak kehilangan akal sehatnya?”
Dalam tulisanku sebelumnya ‘Wanita, Berhentilah Mencari Cinta’, telah kuungkapkan mengenai pentingnya mencintai diri sendiri. Rupanya ini tidak hanya berlaku bagi wanita, tetapi juga bagi pria. Ya, kesalahan terbesar yang dilakukan Qais adalah menjadi Majnun. Ia lebih mencintai Laila dibandingkan dirinya sendiri. Rasa cinta yang sebenarnya suci menjadi racun yang menjangkiti seluruh tubuhnya. Qais yang tadinya cemerlang berubah menjadi seorang yang tidak pantas diperjuangkan. Bukannya memberikan sejuta alasan untuk dicintai Laila, Qais malah memberikan sejuta alasan untuk dilupakan. Mungkin bagi Laila, Qais masih menjadi pemegang kunci hatinya, tetapi Laila tidak hidup sendiri. Laila punya orang tua. Seorang wanita dari keluarga terpandang tidak akan dinikahkan dengan seorang Majnun. Bukannya berusaha merebut hati orang tua Laila, Qais malah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam lubang cinta yang penuh nestapa. Bodohnya Qais!
Begitulah, para pembaca, cukuplah Qais yang mengalami penderitaan sedemikian rupa. Cinta memang bagian penting dalam kehidupan, tetapi cinta dapat pula menjadi duri dalam daging. Seorang yang berakal sehat tidak akan membiarkan cinta dengan liar menguasai dirinya. Kitalah, sebagai manusia yang dianugerahi akal, yang harus mengendalikan cinta. Berilah sejuta alasan pada objek cintamu untuk mencintaimu. Kita tidak dapat mengendalikan pemikiran orang lain, tetapi kita dengan pasti dapat mengendalikan pemikiran kita sendiri. Mari kita ubah persepsi kita tentang cinta. Jadikanlah cinta sebagai bahan bakar untuk memperindah pribadi kita agar kelak kita dapat membahagiakan objek cinta kita!
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Copyright © 2011. Khazanah Islami - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger