Kesimpulan Penulisan Al-Qur'an di Era Sahabat (Penting & Perlu Dibaca)

0 komentar

by Belajar Ilmu Al-Qur'an on Monday, November 2, 2009 at 6:04am ·
 
 

Sebelumnya kita telah menjelaskan sebab-sebab pencatatan Qur’an di era Ustman bin Affan. Namun sebelumnya kita simpulkan beberapa penjelasan penting yang terkait dengan tulisan-tulisan sebelumnya agar leluasa memahami kajian ini di tulisan berikutnya. Dan juga kesimpulan ini jawaban dari beberapa comment yang nadanya seakan-akan Bahwa Mushaf Al-Qur'an baik di era Abu Bakar atau Ustman berbeda. Apalagi ada yang menyangkan bahwa kedua Mushaf ini berbeda dengan Al-Qur'an sekarang ini. Aatupun ini sebagai jawaban bagi teman-teman muslim tentang sejarah Al-Qur'an yang terdapat di web-web atau blog Indonesia yang sudah copy paste dari sana sini (karena semua tulisannya sama) dan tidak diketahui dari mana sumbernya asli. Padahal tulisan-tulisan itu banyak mengutarakan pendapat ORIENTALIS tanpa disadari.. naudzbubillah
1. Bahwa harus dibedakan antara kata TADWIN QUR’AN (membukukan Quran menjadi satu buku utuh) dan KITABAH Al-QUR”AN (catatan Quran/penulisan quran) . TADWIN QURAN berarti membukukan Quran menjadi satu buku seperti Quran yang sekarang ini dan itu belum dilakukan di masa Nabi. Yang ada di era Nabi adalah KITABAH QURAN. Yaitu Qur’an dicatat di serpihan kayu., kulit atau media tulisan lainnya, baik dilakukan oleh sekertaris Nabi yang diperintahkan langsung oleh Nabi. Atau oleh beberapa sahabat yang sudah bisa membaca dan menulis.
Dengan demikian catatan Quran (Kitabah) sudah ada sejak zaman Nabi Saw dan yang belum ada adalah penyusunan Quran (Tadwin) menjadi satu buku utuh.
2. MENGAPA QURAN BELUM DIBUKUKAN KETIKA NABI SAW MASIH HIDUP? SALAH SATU JAWABANNYA KARENA WAHYU BELUM SEMPURNA TURUN DAN KETIKA ITU AYAT DAN SURAT BELUM TERSUSUN. BARU MENJELANG NABI SAW WAFAT DAN QURAN SUDAH TURUN SEMPURNA, BELIAU MEMERINTAHKAN AGAR AYAT INI DILETAKAN SANA SINI BEGITU PULA PENYUSUNAN SURATNYA.
3. Al-Qur’an sendiri di masa Nabi dihafal oleh para sahabat meskipun sahabat itu menulis juga dalam bentuk catatan pribadi, terkecuali para sahabat yang ditugaskan Nabi untuk mencatat. Dengan demikian penyampaian Al-Qur’an dari masa ke masa sebenarnya berlanjut melalui para Hufaz (para penghafal Qur’an).
4. Nabi ketika menerima wahyu langsung disampaikan kepada sahabat, dan sahabat menerimanya sambil dihafal. Sahabat yang tidak hadir ketika itu diberitahu oleh sahabat lainnya sambil juga menghafalnya dan begitu seterusnya. Sehingga ketika misalnya satu ayat datang, hari itu juga sahabat menghafalnya dan hampir seluruh sahabat di Madinah hafal. Sahabat yang ada di luar kota, dalam perjalanan, atau yang ketika itu tidak hadir akan bertanya, atau diberitahu oleh sahabat lainnya. Terkadang hafalan yang diterima dari sahabat lainya dicocokan dengan hafalan sahabat lainnya agar sesuai.
5. Sebelum Nabi Saw wafat, dan wahyu tidak turun lagi, letak susunan ayat atau surat sudah ditertib, dan para sahabatpun mengetahuinya. Karena satu berita dari Nabi apalagi yang berkenaan dengan Qur’an langsung tersebar diantara para sahabat. Sahabat yang berada di luar kota, dalam perjalanan atau di tempat jauh akhirnya pun mengetahuinya. Karena antara sahabat dengan sahabatpun ada kalanya seperti guru dan murid. Sahabat besar (Kibar Sohabat) terkadang atau bahkan sering mengajar sahabat lainnya.
6. Hampir semua sahabat hafal Qur’an, ada yang hafal seluruhnya ketika Nabi masih hidup, seperti khalifah empat, Ibnu Masud, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin tsabit dan lainnya. Ada pula yang menghafal sedikit-sedikit dan hafal seluruhnya ketika Nabi sudah wafat. Namun ada pula sahabat yang tidak semuanya hafal Qur’an dan biasanya adalah sahabat yang terakhir masuk Islam. Jadi kesimpulannya hampir 90 persen sahabat hafal Qur’an. Dan proses pengajaran dan kesinambungan sampainya bacaan Qur’an pada generasi selanjutnya, yaitu dari generasi sahabat kepada tabi’in, kemudian tabi’in kepada generasi selanjutnya dan begitu seterusnya adalah dengan proses hafalan Qur’an. Proses belajar Islam ketika itu adalah menghafal Qur’an dan ada pula sambil menulisnya. Selain mempelajari hadist-hadist Nabi Saw.
7. Proses pembukan Quran (era dimulainya Tadwin Quran) di era Abu Bakar adalah mencatat kembali dari beberapa catatan Qur’an yang ada di tangan sahabat lainnya menjadi satu catatan utuh. Namun BACAAN QURAN SENDIRI dengan dilengkapi letak surat dan ayat sudah dihafal oleh sahabat semuanya. Artinya Mushaf Abu Bakar itu mensikronkan hafalan dangan catatan Quran yang pernah ditulis untuk dijadikan satu buku.
8. Dengan demikian Al-Qur’an meskipun belum tercatat secara utuh dalam bentuk BUKU/MUSHAF , Namun setelah meninggalnya Nabi Saw BACAAN QURAN SUDAH LENGKAP & TERTIB, seperti yang biasa kita baca hari ini.
Jadi Al-Quran itu sebelum dijadikan mushaf di masa Abu Bakar, sudah tertib susunan ayatnya atau suratnya dan yang belum ketika itu hanyalah membukukan Qur'an itu saja.
Itulah sebabnya timbul perdebatan panjang antara Abu Bakar dan Umar bin Khattab pentingnya Qur’an dicatat dan bukan dihafal saja. Karena banyak para Hufaz yang wafat dan takut nantinya generasi berikutnya, yang bisa dikatakan tidak kuat menghafal Qur;an dapat membaca Qur’an melalui Mushaf.
9. Dan ketika selesai pencatatan Qur’an di era Abu Bakar, TIDAK BERARTI BACAAN QURAN TIDAK SEMPURNA, karena proses pembukuan Qur’an di masa Abu Bakar, sebenarnya memindahkan hafalan Quran dalam satu buku dan mencocokan dengan catatan-catatan yang ada yang tersebar di para sahabat. TIDAK SATUPUN AYAT YANG TERLUPAKAN ATAU DIGANTI ATAU LAINNYA. Dengan alasan Pembukuan AL-QURAN ITU SEBENARNYA JUGA MELIHAT LANGSUNG CATATAN QURAN (KITABAH QURAN) YANG DITULIS ATAU ATAS PERINTAH LANGSUNG DR NABI. YANG CATATAN ITU TERSEBAR DI TULISAN SEKRETARIS NABI, ATAU CATATAN LAINNYA DI BEBERAPA SAHABAT.
10. Proses pembukuan Quran di era Abu Bakar penuh ketelitiaan, artinya bahwa ketika Mushaf itu selesai maka seluruh sahabat menerimanya secara aklamasi tanpa satupun sahabat yang menyanggah. Maksudnya tulisan quran di Mushaf itu SESUAI DENGAN HAFALAN QURAN YANG TELAH DIHAFALNYA selain merujuk catatan yang sudah ada. Baik Hafalan itu dihafalnya ketika masih hidup dan dibacakan di depan Nabi atau lewat sahabat lainnya.
11. Ada comment janggal (tidak tahu apakah pertanyaan atau peryataan) bahwa kesepakatan penerimaan Qur’an dalam satu mushaf itu kan di zaman sahabat bukan zaman Nabi. Dengan kata lain tidak menjadi standar harus diterimanya Mushaf Abu Bakar (Bukan Mushaf Utsmani)
Kita jawab tanpa perlu memasukan komentar para ahli sejarah Islam:

 Pertama, Kalau sekiranya Qur’an itu salah ataulah palsu meskipun satu huruf, kita tidak membayangkan betapa bodohnya para sahabat. Masa mereka membiarkan kebohongan ada dihadapan mereka dan untuk apa mereka berperang?, banyak kebaikan? dan lainya jika ada kesalahan tentang Qur’an dan mereka diam saja? Dan sejarah tidak mencatat ada satupun sahabat mengunggat keabsahan MUSHAF ABU BAKAR (Silahkan lihat referensi Bidayah Wa Nihayah, Sir ‘Alam nubula atau kitab2 hadist yang menceritakan tentang pembukuaan Qur’an)

 Kedua, Jika memang kesepakatan sahabat secara aklamasi tidak dianggap benar berarti ayat Qur’an yang menyatakan bahwa Allah itu akan menjaga Al-Qur’an pastilah bohong dan tidak berarti,Karena ada beberapa ayat misalnya bukan ayat Qur’an.
  
Ketiga: Mushaf Abu Bakar berasal dari catatan-catatan Qur’an yang ditulis di masa Nabi, baik oleh sekertaris Nabi atau catatan sahabat lainnya. Jadi sebenarnya memindahkan catatan saja ke buku baru

 Keempat: Pembukuan Mushaf Abu Bakar ditulis berdasarkan semua hafalan para sahabat yang berjumlah ribuan. Ketika semua saragam membacanya misalnya oleh 30.000 ribu orang, apakah Mushaf Abu Bakar ini ada ayat quran yang beda atau salah? Mana mungkin 30.000 orang sepakat dalam kesalahan???


DENGAN DEMIKIAN MUSHAF ABU BAKAR SESUAI DENGAN BACAAN QUR’AN YANG DIAJARKAN NABI SAW DAN TIDAK ADA SATUPUN YANG BERUBAH.
Mengenai Mushaf Ustmani
MUSHAF UTSMANI ITU ADALAH SUMBER AL-QUR’AN YANG ADA PADA KITA SEKARANG INI DAN BUKAN YANG BERBEDA DENGAN QURAN SEKARANG INI Meskipun ketika itu belum ada harokat bahkan huruf-huruf belum ada titiknya. Huruf BA tidak ada titik dibawahnya juga huruf TSA, JIM dan lainnya. Tentu saja mereka bisa membacanya. Sesuai dengan perkembangan selanjutnya Qur’an akhirnya diberi titik dan harokat. Kenapa??? Agar orang NON ARAB (Ajam) bisa membacanya. Bahasa Arab sekarang ini, baik Koran, buku pelajaran, komik, novel, kitab hadist, tafsir tidak satupun diberi harokat (Arab Gundul) tapi mereka bisa membacanya karena memang itu bahasa mereka, their Mother Tongue. Jadi Hanya Qur’an saja yang diberi Harokat dan kitab2 hadist, agar yang baru belajar bahasa Arab bisa mengerti.
JADI MUSHAF USTMANI DENGAN AL-QUR’AN YANG KITA BACA SEKARANG INI ADALAH SAMA. DAN SEKARANG SUDAH DIBERI TANDA DI HURUF-HURUFNYA DAN SUDAH DIBERI HAROKAT.
DENGAN MENGIKARI MUSHAF UTSMANI SAMA HALNYA DENGAN MENGIKARI QURAN SAAT INI.
CATATAN PENTING
Perlu kiranya diperhatikan dan dikaji dengan seksama bahwa para orientalis (sarjana barat yang mempelajari Islam) sudah lebih dari 1 abad mereka mempelajari Qur’an, bahkan banyak dari mereka langsung pergi ke Negara timur tengah, mempelajari BAHASA ARAB SAMPAI MEREKA BISA MEMBACA KITAB-KITAB ISLAM. Mereka membuat Tesis, disertasi tentang Qur’an khususnya, tapi tetap saja mereka bukan orang Islam yang dan kebanyakan dari mereka menjelekan nama Islam, khusunya Qur’an. Dengan kata lain pencatatan Qur’an dari sejak Abu Bakar sampai Utsman Bin Affan mendapat sorotan kaum orieantalis. Kesimpulan mereka antara lain, bahwa Mushaf Utsmani itu sudah berubah dari aslinya, artinya
QUR”AN KITA SEKARANG INI SUDAH DIPALSUKAN. TIDAK ASLI dan lainnya.
Ada satu jawaban bagi mereka kalangan orientalis yang mereka pun tidak bisa membatahnya bahwa:
Tulisan ataupun gaya tulisan (Khat) Quran bisa berbeda, namun bacaanya (Qiraahnya) tidak berubah. Dari sejak Nabi menerima wahyu berupa ayat-ayat Qur’an kemudian diajarkan kepada sahabat dengan tata cara membacanya. Sahabat menghafalnya dengan cara membacanya persis seperti Nabi membacanya, kemudian sahabat mengajarkan kepada Tabi’in seperti yang mereka dengar dan mereka hafal dari Nabi, para tabi’in menghafalnya dan kemudian mengajarkan lagi kepada generasi berikutnya sampai akhirnya kepada kita. Corak tulisan Qur’an boleh berbeda di setiap masa, di setiap daerah namun bacaan nya tetap satu dan inilah bukti yang tidak bisa dibantah meskipun oleh orientalis sekalipun. Dan benarlah firman Allah Swt:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Tentulah kita tidak perlu mengkritik di comment-comment di Page Belajar Ilmu Qur’an dengan keras, kasar kepada orientalis karena tidak akan dibaca oleh mereka. Kata-kata keras, kritik kasar dan cemooh tentulah bukan solusi. Namun sangat disayangkan jika kita terpengaruh oleh pemikiran orientalis itu. Banyak sekali di web-web copy paste yang tidak diketahui siapa penulisnya khususnya tentang Quran dan hadist yang intinya bahwa dua sumber Islam adalah rekayasa sahabat.
Yang disayangkan banyak dari kita sendiri yang tidak tahu, tidak belajar, tidak membaca dan bahkan tidak mengkaji sejarah Qur’an itu sendiri. Apalagi dengan membuat tesis, makalah dengan bahasa Inggris di fakultas filsafat di luar negeri untuk membantah teori-teori yang telah mereka kembangkan.Hanya ada beberapa seperti halnya Syeikh al-Alamah Prof. Dr. AL-Azhami, mantan guru besar hadist di Riyadh yang tekah berhasil merobohkan pandangan orientalis.
Dan bukan solusi pula kita mengejek, mencela, mengkritik para sarjana atau ulama Islam khususnya ahli sejarah kenapa tidak mampu merobohkan teori-teori orientalis.
Yang penting ayo kita belajar agama, namanya juga mencari ilmu, berarti ilmu Islam itu harus ada kepayahan mencarinya, mendatangi satu tempat, pergi bertemu dengan seseorang untuk bertanya, belajar atau berdiskusi. Setidaknya saat ini yang mudah dan mampu kita kerjakan kita datangi toko buku, cari buku, baca, dan kaji. Ataupun membaca majalah Islam dan lainnya. Tentu saja FB ini bukan sarana mencari ilmu yang paling efektif karena keterbatasan ruang tulisan.
Al-Qur’an ini milik kita dan kita pun harus menjaganya. Menjaga Qur’an bisa kita lakukan mempelajarinya, mengajarkan pada anak, istri, teman dan lainnya.
Bersambung

LINK TULISAN SEBELUMNYA:
Sejarah Pembukuan Al-Qur’an (Bag. I):
http://www.facebook.com/pages/Belajar-Fikih/118899250309?created#/notes/belajar-ilmu-al-quran/sejarah-pembukuan-al-quran-bag-i/149299823499
Pengumpulan Al-Qur’an di Era Abu Bakar (Bagian II):
http://www.facebook.com/pages/Belajar-Fikih/118899250309?created#/notes/belajar-ilmu-al-quran/pengumpulan-al-quran-di-era-abu-bakar-bagian-ii/149457888499
Pencatatan Al-Qur’an di Masa Utsman bin Affan (Bag. III):
http://www.facebook.com/pages/Belajar-Fikih/118899250309?created#/notes/belajar-ilmu-al-quran/pencatatan-al-quran-di-masa-utsman-bin-affan-bag-iii/153183763499


Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Copyright © 2011. Khazanah Islami - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger