Nasehat Kematian Umar Bin Abdul Aziz

0 komentar

Suatu ketika,Umar bin Abdul Aziz r.a mengiringi
jenazah. Ketika semuanya telah bubar, Umar dan beberapa sahabatnya tidak beranjak dari
kubur jenazah tadi. Beberapa sahabatnya bertanya, “wahai
Amirul Mukminin, ini adalah jenazah yang engkau menjadi walinya. Engkau menungguinya
disini lalu akan meninggalkannya“.

Umar berkata, “Ya. Sesungguhnya kuburan ini memanggilku dari belakang. Maukah kalian
kuberitahu apa yang ia katakan kepadaku? “.
Mereka menjawab, “ Tentu ”.

Umar berkata, “Kuburan ini
memanggilku dan berkata,
‘Wahai Umar bin Abdul Aziz,maukah kuberitahu apa yang akan kuperbuat dengan orang yang kau cintai ini? ‘,
“Tentu “, jawabku.

Kuburan itu berkata, “Aku bakar kafannya, kurobek badannya dan kusedot darahnya serta kukunyah dagingnya. Maukah
kau kau kuberitahu apa yangxkuperbuat dengan anggotacbadannya? “.

“ Tentu“, jawabku.
“ Aku cabut (satu per satu dari)telapak ke tangannya, lalu dari tangannya ke lengan dan dari lengan menuju pundak. Lalu
kucabut pula lutut dari pahanya.Dan paha dari lututnya. Ku cabut pula lutut itu dari betis.Dan dari betis menuju telapak
kakinya “.

Lalu Umar bin Abdul Aziz menangis dan berkata,
Ketahuilah, umur dunia hanya sedikit. Kemuliaan didalamnya adalah kehinaan. Pemudanya akan
menjadi renta, dan yang hidup didalamnya akan mati. Celakalah yang tertipu olehnya.
Janganlah kau tertipu oleh dunia.
Orang yang tertipu adalah yangctertipu oleh dunia. Dimanakahcpenduduk yang membangun suatu
kota, membelah sungai-sungainya dan menghiasinya dengan
pepohonan, lalu tinggal di
dalamnya dalam jangka waktu sangat pendek. Mereka tertipu,menggunakan kesehatan yang dimiliki untuk berbuat maksiat.

Demi Allah, di dunia mereka dicengkeram oleh hartanya, tak boleh begini dan begitu, dan banyak orang yang dengki
kepadanya. Apa yang diperbuat oleh tanah dan kerikil kuburan"terhadap tubuhnya? Apa pula yang
diperbuat binatang-binatang tanah
terhadap tulang dan anggota tubuhnya?

Dulu, di dunia mereka berada di tengah-tengah keluarga yang mengelilinginya. Diatas kasur yang empuk dan pembantu yang setia.
Keluarga yang memuliakan dan
kekasih yang menyertainya. Tetapi ketika semuanya berlalu dan maut datang memanggil, lihatlah betapa
dekat kuburan dengan tempat tinggalnya.

Tanyakan kepada orang
kaya, apa yang tersisa dari
kekayaannya? 
Tanyakan pula kepada orang fakir, apa yang
tersisa dari kefakirannya?
Tanyalah mereka tentang lisan,yang sebelumnya mereka gunakan berbicara. Juga tentang mata yang
mereka gunakan melihat hal-hal yang menyenangkan. 
Tanyakan tentang kulit yang lembut dan wajah yang menawan serta tubuh
yang indah, apa yang dilakukan cacing tanah terhadap itu semua?

Warnanya pudar,dagingnya dikunyah-kunyah, wajahnya terlumuri tanah. 
Hilanglah keindahannya. 
Tulang meremuk,
badan membusuk dan dagingnya pun tercabik-cabik.

Dimanakah para punggawa dan budak-budak? 
Dimana kawan,dimana simpanan harta benda?

Demi Allah, mereka tidak
membekali si mayit dengan kasur,bahkan tongkat untuk bertopang
sekalipun. Dahulu dirumah mereka
merasakan kenikmatan. Kini ia tenggelam dibawah benaman tanah.
Bukankah kini mereka tinggal ditempat yang lusuh dan menjijikan? Bukankah sama saja
bagi mereka; siang dan malam?
Bukankah sekarang mereka
tenggelam dalam pekatnya
kegelapan? 
Tak ada lagi kesempatan
untuk bertemu dengan orang-orang
tercinta.
Berapa banyak orang yang dulunya mulia, kini wajahnya hancur. anggota badannya tercerai berai.
Mulut mereka belepotan dengan darah dan nanah. Binatang-binatang tanah mengerubuti jasad mereka, sehingga satu per satu
anggota tubuh terlepas. Hingga akhirnya tak tersisa, kecuali hanya sebagian kecil saja. 
Mereka telah meninggalkan istananya. Berpindah dari tempat lapang ke lubang yang
sempit. 
Sesudah itu, istri-istri mereka dinikahi orang lain. Anak- anaknya pun berkeliaran dijalan.
Harta bendanya dibagi-bagi oleh ahli warisnya.

Diantara mereka, ada pula yang'dilapangkan kuburnya. Diberi
kenikmatan dan bersenang-senang
dengannya didalam kubur. 
Tetapi ada pula yang di adzab dalam sempitnya lubang kubur. Menyesali
apa yang telah mereka kerjakan.

Umar lalu menangis dan berkata,
“ Wahai yang menjadi penghuni kubur esok hari, bagaimana dunia bisa menipumu? Dimana
kafanmu? Dimana minyak
(wewangian untuk orang mati) mu dan dimana dupamu? Bagaimana nanti ketika kamu
telah berada dalam pelukan bumi. Celakalah aku, dari bagian tubuh yang mana pertama kali
cacing tanah itu melumatku?
Celakalah aku, dalam keadaan bagaimana aku kelak bertemu dengan malaikat maut, saat
ruhku meninggalkan dunia?
Keputusan apakah yang akan diturunkan oleh Rabbku? “.

Ia menangis dan terus menangis,lalu pergi . Tak lebih dari satu pekan setelah itu, ia meninggal.

Semoga Beliau dirahmati Allah.
sumber
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Copyright © 2011. Khazanah Islami - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger